Khilafatul Muslimin Membuat Publik Berpaling dari Pancasila ke Khilafah, Ponpes Fashihuddin : Ada Unsur Kesengajaan dari Mereka

News90 Dilihat

KH. Asnawi Ridwan selaku Pengasuh dan Pimpinan Pondok Pesantren Fashihuddin menilai pada saat Menjelang peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni 2022, masyarakat dihebohkan dengan konvoi motor kelompok Khilafatul Muslimin (KM) pimpinan Abdul Qodir Hasan Baraja di beberapa titik di Jakarta, Jawa Barat, Brebes, dan lainnya.

Dapat dibaca bahwa mereka mengadakan konvoi menjelang hari lahir Pancasila itu ada unsur kesengajaan untuk memberikan pesan kepada publik agar berpaling dari Pancasila ke khilafah.

“Mereka membawa tulisan yang dipajang di jok belakang motor yang berbunyi ‘Sambut Kebangkitan Khilafah islamiyah’, ada lagi tulisan yang berbunyi “Khilafah Solusi Tuntas Problem Ummat’, dan bendera yang mirip bendera HTI. Selain itu mereka juga menyebarkan selebaran berisi kampanye ideologi khilafah kepada setiap orang yang mereka temui di pinggiran jalan.” tuturnya.

KH. Asnawi menjelaskan bahwa selama ini indoktrinasi dan pengopopinian publik kalangan pengusung khilafah melalui media-media sosial, kanal-kanal internet, dan pertemuan langsung. KM menggunakan pengopinian publik gaya baru yaitu dengan konvoi motor dan menyebarkan selebaran.

Lalu KH. Asnawi Ridwan mengatakan “Strategi yang dilakukan oleh kelompok Khilafatul Muslimin adalah berbeda dengan HTI, JAT, ISIS, Al-Qaidah, dan sejenisnya. Tetapi substansi yang diperjuangkan sama yaitu merongrong dan berjuang mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi khilafah. Apalagi kalau dilihat dari rekam jejaknya, mengingat Abdul Qadir Hasan Baraja adalah orang lama, teman akrab Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar ketika bersama-sama di NII.”

Dalam perspektif Islam, KM sudah tergolong makar, pengkhianat, dan hughat (pemberontak}. Sebab, pertama, KM sudah seperti mendirikan negara di dalam negara. Abdul Qodir Hasan Baraja adalah khalifah yang mernimpin KM. Dan Abdul Qodir Hasan Baraja sendiri mengaku sebagai Arnirul Mukminin dan penerus khilafah Islam ke-105 pasca Rasulullah Saw. Karena ini, para anggotanya sangat loyal ( al-wala ) kepadanya sebagai khalifah, dan berlepas diri (al-hara) dari NKRI. Dalam perspektif fikih Islam, ini bisa disebut sebagai hughat (pemberontak} karena telah membentuk negara di dalam negara.

“Sebagai sebuah gerakan KM telah mengkhianati janji yang telah disepakati oleh seluruh anak bangsa dari semua ras, suku dan agama untuk mendirikan negara Indonesia dengan Pancasila sebagai ideologi pemersatu. Seluruh anak bangsa berjuang melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia. Mereka bukan hanya umat Muslim, melainkan seluruh rakyat dari berbagai agama dan keyakinan. Mereka semua memiliki saham dalam memerdekakan Indonesia.” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *