Sikapi Zona Merah, Ciamis Wajib Gencarkan Sosialisasi Tentang Bahaya Radikalisme

News106 Dilihat

CIAMIS – Gerakan radikalisme saat ini telah merambah ke berbagai sektor kehidupan di Indonesia, apalagi keberadaannya dikaitkan atau diidentikan dengan kalangan pesantren bergaris keras sehingga dinilai sangat membahayakan dan mengancam keutuhan NKRI.

Kabupaten Ciamis menjadi salahsatu Kabupaten yang ditetapkan masuk dalam lima besar zona merah radikalisme di Jawa Barat, tentunya harus waspada dan gencar melakukan sosialisasi bahaya radikalisme.

Untuk mencegah dan memberikan pemahaman kepada masyarakat akan bahaya paham radikalisme, pro kekerasan, anti Pancasila yang dapat merusak persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus dilakukan sosialisasi tentang paham radikalisme.

Kabid Kewaspadaan Nasional pada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Ciamis, Purwadi mengakui hal itu, menurutnya masuknya Ciamis pada zona merah radikalisme lima besar di Jawa Barat menjadi tugas berat, untuk itu pihaknya akan terus bekerjasama dengan instansi terkait seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Densus 88 dan juga Kementerian Agama dalam upaya mecegahan terjadinya hal yang tidak diinginkan.

“Kami akan gencar melakukan sosialisasi Bahaya Radikalisme bekerjasama dengan BNPT dan pihak tekait lainnya dengan sasaran mulai kalangan pesantren sampai masyarakat umum,” katanya.

Sekertaris Forum Silaturahim Pondok Pesantren Ciamis yang juga merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis, Dr. KH Fadlil Yani Ainusyamsi, MBA., M.Ag,. (Kang Icep) mengungkapkan bahwa radikalisme lahir di Britania Raya pada abad ke-18 itu sebenarnya adalah sebuah gerakan kiri yang menentang gerakan kanan. Radikal berasal dari kata radik (Mengakar Tajam Kebawah) yang dalam bahasa arabnya adalah Radikal.

Tetapi Radikalisme ketika ditarik dalam wilayah keagamaan maka akan terjadi hal-hal yang mungkin bertentangan dengan tata nilai moral keislaman itu sendiri.

“Kita mengajarkan Islam dengan rahmatan lil alamin yaitu penuh kasih sayang, memberikan kenyamanan, kedamaian, kasih sayang untuk umat manusia di muka bumi ini. Karena fitrah kita adalah penuh kasih sayang kepada sesama itu intinya,” jelasnya, Sabtu (02/07/2022) di Ponpes Darusalam.

Dijelaskannya, ketika radikalisme berkembang dalam tatanan perilaku sikap dan mentalitas umat, maka yang harus dijaga adalah perasaan dan akal sehat kita untuk senantiasa menjaga kebersamaan dan di antara sesama umat Islam, sesama putra bangsa, antara sesama masyarakat termasuk juga di Tatar Galuh Ciamis.

“Mudah-mudahan pemikiran ataupun paham gerakan radikalisme itu semata-mata bukan untuk membuat resah umat, membuat resah masyarakat, akan tetapi radikalisme yang sifatnya pengajaran nilai-nilai Akidah itu memang harus radik tetapi didalam hal-hal kemanusiaan, sosial kemasyarakatan maka kita harus bisa menjaga pemahaman itu untuk lebih sinergis dengan kehidupan umat berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.

Kang Icep juga mengajak kepada masyarakat Tatar Galuh Ciamis untuk sama-sama menjaga keamanan ketertiban masyarakat di tengah-tengah umat yang baru saja selesai dari ujian yang dahsyat yaitu pandemi Covid-19.

“Umat dan bangsa Indonesia harus kembali bersatu padu untuk membangun nilai-nilai moral dengan kebersamaan,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ciamis, Abdul Latif Han (Gus Latif), mengajak dan menghimbau kepada seluruh masyarakat Tatar Galuh Ciamis untuk saling bahu membahu, menjaga ketertiban, keamanan dan kerukunan diantara sesama.

“Apabila ada pihak yang ingin merusak ketertiban, kerukunan dan keamanan sebaiknya untuk berkoordinasi langsung dengan aparat setempat atau berkoordinasi dengan para tokoh-tokoh yang terkait,” ucapnya.

Gus Latif juga mengingatkan kepada masyarakat untuk menjaga lingkungannya dari paham-paham yang berlawanan dengan NKRI, berlawanan dengan paham-paham Pancasila. Maka tugas kita bersama untuk menjaganya.

“Akhir-akhir ini ada paham-paham yang ingin mendirikan negara di atas negara yang kita cintai. Ingat mencintai tanah air kita adalah sebagian daripada iman Hubbul Wathon Minal Iman. Kita lahir di Republik Indonesia, kita makan di sini, hidup di sini, minum air di Indonesia, maka kewajiban kita adalah menjaga NKRI dengan benar-benar menjaganya,” ungkap Gus Latif.

Dijelaskan Gus Latif, masyarakat harus menjadikan suatu keniscayaan bahwa Bhinneka Tunggal Ika merupakan hal yang sudah niscaya, sudah pasti, sudah finish tidak bisa dirubah dan tak akan dirubah. Maka walaupun banyak perbedaan majemuk di dalamnya, baik itu berbeda suku, berbeda agama, tetapi kita tetap satu yaitu NKRI.

“Bhinneka niscaya perbedaan itu niscaya maka kita harus selalu mesra dan menjaga negara ini dengan bahagia dan cinta kita,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *