Sambut Pemilu 2024, Ketua Tanfidziyah PWNU Jabar Minta Masyarakat Tak Saling Berseteru Hanya Gara-gara Politik

News90 Dilihat

Bandung – KH. Juhadi Muhammad, SH. selaku Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat, menyampaikan harapan agar hubungan silaturahim terus terjalin antara ulama dengan umaro dalam rangka sama-sama menjaga ummat untuk kemaslahatan. Terutama dalam menyikapi dinamika politik saat ini di wilayah Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya.

Diketahui, saat ini terjadi saling serang statement dari masing-masing pasangan calon pasca pelaksanaan debat Cawapres lalu dan menjelang debat terakhir Capres, yang secara langsung maupun tidak, akan berdampak pada masyarakat. Dimana terdapat beberapa isu yang saat ini semakin santer.

Secara potensi massa, menurut Kyai Juhadi, PWNU Jabar mengkalkulasi warga nahdliyin cukup dominan di Jawa Barat, diperkirakan jumlahnya mencapai lebih dari 12-15 juta nahdliyin yang memiliki hak suara (masuk dalam DPT) Jawa Barat.

“Namun demikian, seperti halnya komitmen PBNU, bahwa Nahdlatul Ulama memberikan kebebasan kepada warga nahdliyin untuk menyalurkan hak suaranya pada Pemilu 2024 mendatang.” ujar Kyai Juhadi di kantor PWNU Bandung.

Secara pandangan pribadi, Kyai Juhadi berharap Pemilu 2024 dapat berlangsung dengan aman dan damai serta se-demokratis mungkin. Kondisi Pemilu 2024 ini, diakuinya memang cukup berbeda dengan Pemilu 2014 dan 2019 lalu, dimana masing-masing jaman memiliki tantangan dan dinamika sendiri.

“Nuansa polarisasi ummat Islam, dirasakan tidak begitu signifikan karena sebelumnya masih ada Ormas keagamaan yang dibekukan Pemerintah karena dinilai dapat membahayakan keutuhan NKRI.” ungkapnya.

Para Kyai dan Ulama NU konsisten dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, Islam Wathaniyah dan Wasathiyah, artinya kaum nahdliyin tidak berlebihan dalam ber-islam, tidak ekstrem kanan (moderat) atau ekstrem kiri (liberal). Warga NU harus bisa hidup bersanding dengan ummat agama lain maupun sesama muslim yang berbeda mazhab.

Kyai Juhadi sebagai Ketua PWNU Provinsi Jabar, menyampaikan pesan agar dalam menyikapi Pemilu 2024 mendatang, sangat diperlukan peran dari para tokoh untuk dapat mengantisipasi dan mengendalikan massa pendukungnya.

“Jangan sampai terjadi segregasi sosial karena perbedaan dukungan politik, seperti halnya saat Pemilu / Pilgub DKI sebelumnya, dimana sesama ummat Islam saja sampai harus “berseteru” gara-gara politik.” tegasnya.

Kyai Juhadi sangat berharap agar Pemilu kali ini berjalan aman, tentram dan damai.

“Saya mengharapkan “tragedi sosial” perpecahan ummat pada Pemilu sebelumnya, tidak perlu terjadi lagi pada Pemilu 2024 ini,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *