Penyelamatan PPP Dimulai, Tokoh dan Kader Militan : Silakan Pak Suharso Monoarfa Mundur dari Jabatan Ketum

News99 Dilihat

Jakarta – Tokoh dan kader militan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berkumpul di hotel berjaringan internasional di Jakarta Selatan, malam Kamis (9/6). Kepemimpinan Soeharso Monoarfa dinilainya memperburuk citra partai berlambang Ka’bah, yang menjadi Rumah Besar Umat Islam itu.

“Kami hanya ingin mempersilakan bapak Soeharso Monoarfa mundur dari jabatan ketua umum PPP, dan lebih fokus sebagai menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu,” ujar Habil Marati, kader senior yang didaulat menjadi Ketua dalam pertemuan dadakan itu.

Alasannya, marwah PPP sebagai Rumah Besar Umat Islam wajib dikembalikan. Untuk itulah, Habil Marati mengakui dibentuknya Pergerakan Penyelamat PPP merupakan bentuk kepedulian sekaligus keprihatinan terhadap organisasi politik yang sudah mendarah daging ditekuni dimana kiprahnya sekarang ikut terdegradasi di bawah kepemimpinan Soemo.

Hal senada diungkap Achmad Farial, yang bersama-sama Habil Marati juga mentemen lain yang hadir pernah mewakili sebagai anggota DPR RI daerah pemilihan masing-masing. Seperti Syahrial Gamas mantan Ketum Gerakan Pemuda Ka’bah, Anwar Sanusi, Irene Putri Hari Rusli (Ketum Perti saat fusi 1973), Rachman Yakub aktor kondang Dunia Terbalik, Hasan Husaeri Lubis tokoh aktivis HMI, Nizar tokoh aktivis Pelajar Islam Indonesia.

“Kami tidak ingin PPP dijadikan pelengkap penderita, yang terus membebek,” ujar Ferial, wakil ketua PP PPP. “Padahal, dalam percaturan politik nasional, PPP itu menjadi satu dari tiga partai politik pilihan semasa Orde Baru.”

“Dosa” Soemo

Syahrial Agamas mengakui telah memetakan “dosa” Soemo. Mulai kebijakan yang kontroversi terkait kepengurusan daerah-daerah, persoalan rumahtangga yang rumit, hingga “menyerahkan” mandat PPP masuk Koalisi Indonesia Bersatu.

“Memang pa’ Soemo itu ketua umum kami tetapi bukan berarti sekonyong-konyong membebek dengan gonjang-ganjing percaturan politik saat ini, yang seperti masih Test on the Water,” ujar Syahrial, mantan Ketum GPK PPP itu didampingi Sekjen Ikatan Alumni GPK PPP, Taryono Asa.

Sebelumnya, Selasa (7/6), puluhan massa tergabung dalam Gerakan Penyelamat Ka’bah (GPK) menggeruduk kantor pusat PPP di Jalan Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka menggelar Karpet Merah bertujuan ditapaki Ketum Soeharso Monoarfa keluar dari kantor PPP.

“Jangan biarkan PPP semakin ambruk, terpuruk. Maka itu, karpet merah ini kami tujukan pada Suharso Monoarfa agar legowo hengkang dari kursi jabatannya sebagai Ketua Umum PPP,” tandas Rohmad, koordinator aksi GPK, dikutip media.

Dijelaskannya, PPP membutuhkan figur yang mampu membangun elektabilitas partai untuk mengantarkan kadernya ke parlemen. “Sosok itu tidak ada di Soeharso Monoarfa, yang masih dililit urusan rumah tangga,” ujar Rohmad, mengaku usai membawa aspirasi mengusung Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI), LaNyalla Mahmud Mattalitti sebagai Ketum PPP baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *